FLUXTREN – Harga Bitcoin kembali melemah pada awal Februari 2026 dan bertahan nyaman di bawah level US$78.000 atau sekitar Rp1.309.854.468 (kurs rupiah 16.793). Tren penurunan yang dimulai sejak pergantian bulan berlanjut, mencerminkan tekanan sentimen risiko global yang belum mereda.
Hingga pukul 08.05 WIB, Senin (2/2/2026), Bitcoin bergerak di kisaran US$77.757,56 atau setara Rp1,3 miliar. Dalam satu tahun terakhir, BTC telah terkoreksi 23,2%, sementara secara year to date (ytd) tercatat melemah 10,9%.
Tekanan semakin dalam setelah pada 1 Februari 2026 Bitcoin sempat anjlok hingga 10% ke level US$75.709,8. Secara keseluruhan, BTC telah turun lebih dari 14% dibandingkan posisi Januari.
Pelemahan tidak hanya terjadi pada Bitcoin. Sejumlah aset kripto utama juga mencatatkan koreksi. XRP turun 3,5% dalam 24 jam terakhir dan bertahan di US$1,6. Ether melemah lebih tajam sekitar 6,6% ke US$2.306.
Sementara itu, BNB turun 2,3% ke US$765, Solana melemah 4,1% ke US$101, dan Cardano terkoreksi 2,1% ke US$0,28. Berbeda arah, Dogecoin justru menguat tipis 0,3% ke US$0,105.
Tekanan terhadap pasar kripto dipicu kombinasi faktor geopolitik, reli sebelumnya yang dinilai berisiko, serta pergerakan dolar AS yang gagal memberikan sentimen positif. Kondisi ini mengingatkan pada pelemahan tahun lalu saat “Liberation Day”, ketika pasar tertekan akibat kebijakan tarif dagang Presiden Donald Trump.
Sentimen pasar juga dipengaruhi spekulasi terkait calon Gubernur Federal Reserve berikutnya, Kevin Warsh, dalam proses pencarian pengganti Jerome Powell. Perubahan persepsi risiko tersebut memicu aksi de-risking di pasar keuangan, di mana Bitcoin—yang kerap dipandang sebagai aset berisiko tinggi—menjadi salah satu instrumen pertama yang dilepas investor.
Analis dari Rekt Capital dalam catatan akhir Januari menyebutkan bahwa Bitcoin berada dalam “posisi yang sangat rentan”, terutama jika gagal mempertahankan penutupan mingguan di atas level teknikal kunci.
“Ketika penutupan mingguan hanya terjadi sedikit di atas level penting, maka uji ulang berikutnya menjadi rentan secara struktural,” tulisnya.
Pengamat pasar Philarekt sebelumnya juga menyoroti kemiripan pola teknikal dengan pergerakan 2022. Saat itu, Bitcoin membentuk pola bearish flag setelah turun dari puncak siklus di US$69.000, sebelum kembali terkoreksi usai menguji rata-rata pergerakan 100 hari.
Secara historis, Bitcoin rata-rata kehilangan sekitar 40% dari capaian tertingginya (all time high/ATH), yang kerap menjadi sinyal kepanikan pelaku pasar di tengah melemahnya permintaan.
Dengan catatan negatif sepanjang Januari, Bitcoin kini mencatat penurunan bulanan keempat berturut-turut, menjadi rekor pelemahan terpanjang sejak 2018. Paul Howard, Direktur di pembuat pasar Wincent, menilai peluang terciptanya ATH baru tahun ini semakin kecil, sebagaimana dikutip Bloomberg News.

