FLUXTREN — Nilai pasar perusahaan induk Google, Alphabet Inc., anjlok lebih dari 100 miliar dolar AS (sekitar Rp1.664 triliun) usai OpenAI merilis ChatGPT Atlas, browser baru berbasis kecerdasan buatan (AI) yang digadang bakal menyaingi Google Chrome.
Menurut laporan news.com.au, harga saham Alphabet turun dari 252,68 dolar AS menjadi 246,15 dolar AS hanya dalam waktu 15 menit setelah OpenAI mengumumkan Atlas dalam siaran langsung.
Penurunan tajam ini membuat kapitalisasi pasar Alphabet susut dalam hitungan jam. Saham perusahaan sempat pulih ke 250,46 dolar AS, namun masih tercatat turun 2,37 persen dibandingkan hari sebelumnya.
Atlas, Browser dengan Otak ChatGPT
CEO OpenAI Sam Altman memperkenalkan ChatGPT Atlas sebagai browser berbasis AI yang dibangun sepenuhnya di sekitar ChatGPT. Atlas memungkinkan pengguna menggunakan chatbot saat menjelajah web — mulai dari bertanya, meringkas halaman, hingga menulis langsung tanpa meninggalkan laman.
Browser ini juga menghadirkan tombol “Tanya ChatGPT” di pojok halaman untuk memudahkan interaksi cepat.
Selain itu, Atlas memiliki fitur memori ChatGPT yang menyimpan konteks percakapan dan dapat diakses kembali kapan pun.
Mode Agen: ChatGPT Bisa Bekerja Sendiri
Dalam demonstrasinya, Altman menampilkan mode agen (agent mode) — fitur yang memungkinkan ChatGPT melakukan pencarian dan menyelesaikan tugas secara mandiri di web.
Mode ini menggunakan kemampuan AI untuk menelusuri halaman, mengumpulkan informasi, lalu menyajikan hasilnya ke pengguna.
Fitur mode agen hanya tersedia bagi pelanggan ChatGPT Plus dan Pro, sementara versi dasar Atlas bisa diunduh gratis untuk pengguna macOS.
Dukungan untuk Windows, iOS, dan Android dikabarkan segera menyusul.
Peluncuran ChatGPT Atlas menandai langkah agresif OpenAI memasuki pasar browser global — wilayah yang selama ini didominasi Google Chrome.
Dengan kemampuan AI terintegrasi langsung di dalam browser, OpenAI tampaknya siap mengubah cara orang menjelajahi internet.

