Anak Bisa Alami Brain Rot Jika Terlalu Bergantung AI, Pentingnya Peran Orang Tua dan Guru

Brain rot bisa terjadi ketika anak terlalu sering meminta jawaban instan dari chatbot atau generator AI tanpa berusaha memahami prosesnya.

FLUXTREN Wakil Menteri Komunikasi dan Digital (Komdigi) Nezar Patria menegaskan pentingnya literasi digital bagi orang tua dan guru untuk mencegah anak-anak mengalami ketergantungan berlebihan pada kecerdasan buatan (AI).
Peringatan ini disampaikan Nezar mengingat semakin mudahnya akses masyarakat terhadap platform AI generatif.

Menurutnya, penggunaan AI yang tidak tepat dapat memengaruhi perkembangan kemampuan berpikir anak, terutama jika mereka terbiasa mengandalkan AI sejak usia dini.

“Yang kita takutkan, bukan anak-anak tambah cerdas dengan AI. Yang terjadi adalah brain rot, otaknya enggak maksimal dipakai, semuanya tergantung sama AI,” ujar Nezar, dikutip Minggu (9/11).

Istilah brain rot merujuk pada kondisi di mana kemampuan kognitif menurun akibat minimnya aktivitas berpikir mandiri.

Menurut Nezar, ini bisa terjadi ketika anak terlalu sering meminta jawaban instan dari chatbot atau generator AI tanpa berusaha memahami prosesnya.

Oleh karena itu, literasi digital untuk orang tua dan guru menjadi semakin mendesak agar mereka dapat mengawasi penggunaan AI, mengarahkan anak agar tetap berpikir kritis, serta mencegah ketergantungan sejak dini.

Literasi Digital Jadi Kunci Penggunaan AI yang Sehat

Nezar menekankan bahwa masyarakat harus dibekali kemampuan untuk menggunakan AI secara bijak dan bertanggung jawab.
Platform AI generatif saat ini semakin mudah diakses, sehingga risiko penyalahgunaan dan ketergantungan meningkat.

“Penting untuk memastikan masyarakat bisa memanfaatkan teknologi AI secara tepat, bukan hanya menggunakannya tanpa batas,” kata Nezar.

Ia juga mengapresiasi kolaborasi antara Komdigi dan berbagai mitra dalam mendorong ekosistem literasi digital, talenta, dan etika AI di Indonesia.

Komdigi saat ini menjalankan beberapa program penguatan talenta AI, salah satunya AI Talent Factory — program yang bertujuan mencetak generasi pengembang AI Indonesia agar mampu bersaing di tingkat global.

Menurut Nezar, Indonesia tidak boleh hanya menjadi konsumen AI, tetapi harus menjadi produsen dengan talenta yang mampu membangun model dan solusi teknologi sendiri.

“Tujuan kita menyiapkan AI talent yang global standard dan menjadikan mereka developer, bukan cuma user saja,” tegasnya.

Penguatan Regulasi: Etika AI Akan Diatur Lebih Ketat

Selain pengembangan talenta, pemerintah juga memperkuat regulasi untuk memastikan adopsi AI berjalan secara etis.

Komdigi telah menerbitkan Surat Edaran Nomor 9 Tahun 2023 tentang Etika Kecerdasan Artifisial, dan akan melengkapinya dengan Peta Jalan AI Nasional, dan Perpres Etika AI.

Regulasi ini dibuat untuk menjaga keamanan dan privasi, mencegah penyalahgunaan AI, dan memastikan inovasi dilakukan secara bertanggung jawab.

Peringatan Wamen Nezar menjadi refleksi penting di tengah euforia adopsi AI di masyarakat.
Indonesia harus menyeimbangkan antara pengembangan talenta masa depan, edukasi literasi digital, penggunaan AI yang sehat, dan regulasi yang melindungi masyarakat.

Tanpa bimbingan dan literasi yang memadai, anak-anak berisiko bukan semakin cerdas dengan AI — tetapi justru mengalami penurunan kemampuan berpikir kritis

Ikuti topik atau tag dari artikel ini untuk melihat lebih banyak berita dan informasi seperti ini

Jangan ketinggalan info keren soal teknologi dan AI?

Yuk, join Channel WhatsApp FluxTren Indonesia!
Satu klik, langsung update berita paling hangat — cepat, ringan, dan pastinya seru buat diikuti!

FluxTren menghormati privasi — tidak berbagi nomor kamu ke pihak ketiga. Info lebih lanjut di kebijakan privasi.
spot_img

More in News

POPULAR