FLUXTREN — Keputusan militer Amerika Serikat (AS) menyerang wilayah Iran dinilai meningkatkan risiko ancaman siber terhadap berbagai entitas di AS, khususnya sektor keuangan.
Laporan dari Fitch Ratings menyebut serangan siber yang dipicu motif geopolitik berpotensi menyasar berbagai sektor penting, termasuk jaringan telekomunikasi, utilitas air, pembangkit listrik, hingga layanan kesehatan.
Direktur US Public Finance Fitch Ratings, Omid Rahmani, mengatakan bahwa serangan balasan dalam bentuk siber sangat mungkin terjadi.
“Serangan siber balasan yang lebih luas juga kemungkinan besar terjadi,” ujar Rahmani, dikutip Rabu (11/3/2026).
Entitas Lokal Dinilai Lebih Rentan
Rahmani menjelaskan bahwa serangan siber juga bisa dilakukan oleh aktor individu atau lone wolf. Berdasarkan data historis, entitas municipal dan pemerintah lokal kerap memiliki tingkat investasi keamanan siber yang lebih rendah dibandingkan lembaga federal.
Kondisi tersebut membuat sistem mereka lebih rentan terhadap berbagai jenis serangan digital.
Beragam Pola Serangan
Pola serangan yang mungkin muncul mencakup berbagai metode, mulai dari distributed denial-of-service (DDoS), serangan bermotif finansial, hingga aksi yang bertujuan menimbulkan gangguan operasional atau kerusakan fisik pada sistem infrastruktur.
Menurut Rahmani, entitas keuangan publik menjadi target potensial karena layanan esensial yang mereka sediakan, kerentanan sistem teknologi informasi, serta besarnya data yang mereka kelola.
“Entitas keuangan publik yang lebih kecil dan terbatas sumber dayanya khususnya rentan, karena pengurangan sumber daya siber federal dapat menghambat pertahanan yang kuat, koordinasi, dan respons,” jelasnya.
Potensi Dampak Berantai
Sementara itu, eksekutif pemeringkat kredit senior risiko siber di Moody’s Ratings, Leroy Terrelonge, menilai kelompok peretas yang diduga mendapat dukungan dari Teheran berpotensi melancarkan serangan balasan yang berdampak luas.
Ia menambahkan bahwa target serangan tidak hanya terbatas pada AS, tetapi juga dapat menyasar Israel serta negara-negara sekutunya, sebagaimana pola yang pernah terjadi pada periode sebelumnya.
Menurut Terrelonge, kemampuan para pelaku bervariasi, termasuk dalam serangan ransomwareyang dapat menghapus data, mengganggu layanan kritis, hingga merusak kepercayaan pelanggan terhadap lembaga yang terdampak.

