FLUXTREN — Sepanjang 2025, Vincent Tjendra dan Marcella Moniaga lebih sering mendengar kata tidak daripada ya. Hampir setahun penuh, kedua pendiri Astro—startup quick commerce asal Indonesia—berkeliling menemui investor, hanya untuk menghadapi penolakan demi penolakan.
Krisis pendanaan global yang belum pulih sepenuhnya, ditambah skandal besar di startup agritech eFishery, membuat kepercayaan investor terhadap ekosistem teknologi Indonesia menyusut drastis. Modal menjadi mahal, seleksi makin ketat, dan kesabaran para pemodal menipis.
Namun menjelang September 2025, angin perlahan berubah. Sejumlah investor kembali membuka pintu diskusi. Terobosan akhirnya datang ketika Amazon.com Inc. menyuntikkan dana sebesar US$51,9 juta atau sekitar Rp868,1 miliar ke Astro—investasi tunggal terbesar yang diterima startup Indonesia sepanjang tahun ini.
Valuasi Astro memang turun sekitar 30 persen dibanding putaran pendanaan sebelumnya. Tapi bagi Tjendra, ini bukan kekalahan.
“Kami membangun untuk jangka panjang,” ujarnya kepada Bloomberg News. “Putaran pendanaan yang menurun hanyalah kejadian sesaat.”
Kesederhanaan Mengalahkan Ambisi Berlebihan
Pelajaran serupa kini diambil banyak pendiri startup. Janji pertumbuhan agresif dan narasi “menyelamatkan dunia” tak lagi cukup. Kasus eFishery menjadi cermin mahal bahwa fundamental bisnis jauh lebih bernilai daripada cerita bombastis.
“Pasca kabar eFishery, banyak putaran pendanaan ditunda,” kata Rama Mamuaya, Partner DS/X Ventures. “Rusaknya kepercayaan membuat investor memperlambat proses demi uji tuntas yang lebih dalam.”
Di atas kertas, eFishery pernah menjadi startup impian: valuasi US$1,4 miliar, dukungan investor global seperti SoftBank Group Corp. dan Temasek Holdings Pte., serta visi besar transformasi sektor perikanan.
Kenyataannya, salah satu pendirinya, Gibran Huzaifah, terbukti memalsukan laporan keuangan. Sekitar US$300 juta dana investor hingga kini belum diketahui keberadaannya. Polisi menahan Gibran dan dua mantan eksekutifnya pada Mei 2025, dan berkas perkara telah diserahkan ke kejaksaan.
Skandal ini membuka luka yang lebih dalam: budaya fake it till you make it bertabrakan dengan pasar yang sudah lelah oleh perlambatan ekonomi, ketidakpastian politik, dan koreksi besar sektor teknologi sejak 2022.
Efek Domino: Investor Menarik Rem
Dampaknya merambat cepat. Awal September, pejabat senior dari MDI Ventures dan BRI Ventures ditahan dalam penyelidikan terkait investasi di TaniHub. Beberapa unit modal ventura—termasuk Central Capital Ventura—disebut mencoba melepas saham startup dengan harga diskon.
Bahkan firma audit tak luput dari imbas. Unit lokal Grant Thornton, auditor operasi eFishery tahun 2022, keluar dari jaringan globalnya dan kini mencari mitra baru.
“Standar berinvestasi kini jauh lebih tinggi,” kata Sang Han, mitra di East Ventures. Investor memperluas uji tuntas hukum dan keuangan, menjalankan reference check berlapis, dan kembali pada valuasi yang realistis.
Data menunjukkan betapa dalamnya koreksi ini. Startup Indonesia hanya menghimpun sekitar US$80 juta pada paruh pertama 2025—turun dari US$200 juta pada periode yang sama tahun lalu, dan jauh dari puncak US$9,44 miliar pada 2021.
Regulasi, Tata Kelola, dan Jalan Pulang ke Realitas
Merespons situasi tersebut, lima asosiasi modal ventura Asia Tenggara menyusun panduan tata kelola startup, mendorong transparansi, kesiapan IPO yang sehat, hingga mekanisme exit yang bermartabat.
Pemerintah ikut turun tangan. Oktober lalu, BKPM memangkas modal disetor minimum bagi perusahaan asing dari Rp10 miliar menjadi Rp2,5 miliar per kegiatan usaha. Langkah ini dinilai membuka ruang bagi startup tahap awal untuk kembali menarik investor global.
Sementara itu, Alpha JWC meluncurkan platform pelaporan pelanggaran independen dan rahasia. Menurut Managing Partner Jefrey Joe, lebih dari 50 persen kasus penipuan terungkap lewat mekanisme whistleblowing.
“Kepercayaan adalah fondasi,” ujarnya. “Setelah itu, barulah kita bicara pertumbuhan dan fundamental.”
Pasar Baru, Definisi Sukses Baru
Di tengah pengetatan modal, satu fakta lain ikut mengubah lanskap: kelas menengah Indonesia menyusut. BPS mencatat sekitar 9,5 juta orang keluar dari kategori tersebut dalam lima tahun terakhir. Medan pertarungan kini bergeser ke 70 persen penduduk dengan pengeluaran di bawah US$10 per hari.
Startup yang bertahan adalah mereka yang memahami realitas ini. Jago Coffee, misalnya, menurunkan harga secangkir kopi hingga sekitar Rp10.000 dan mengandalkan gerobak bergerak berbasis aplikasi untuk memangkas biaya.
“Kelas menengah sejati kita adalah pasar massal,” kata Yoshua Tanu, CEO Jago Coffee. “Mereka yang hidup dari upah minimum.”
Bagi ekosistem startup Indonesia, 2025 menjadi tahun koreksi yang menyakitkan—namun perlu. Di balik runtuhnya ilusi unicorn instan, muncul fondasi baru: bisnis yang lebih sederhana, jujur, dan berpijak pada kenyataan pasar.

