Bitcoin Anjlok 3,8% Usai Serangan AS-Israel ke Iran, Rp2.153 Triliun Nilai Kripto Menguap

Lonjakan tekanan jual juga terlihat di pasar derivatif. Dalam satu jam pada Sabtu pagi, volume jual Bitcoin melonjak sekitar US$1,8 miliar, menurut analisis CryptoQuant.

FLUXTREN — Harga Bitcoin dan sejumlah mata uang kripto lainnya turun tajam setelah Amerika Serikat dan Israel melancarkan serangan terhadap target di Iran pada Sabtu (28/2/2026), memicu tekanan pada aset berisiko tinggi.

Bitcoin sempat merosot 3,8% ke level US$63.038 sebelum stabil di kisaran US$64.000 pada perdagangan pagi di New York. Dengan asumsi kurs Rp16.824 per dolar AS, level terendah tersebut setara sekitar Rp1,06 miliar.

Token terbesar kedua, Ether, juga terkoreksi hingga 4,5% ke US$1.836 atau sekitar Rp30,8 juta.

Data dari CoinGecko menunjukkan sekitar US$128 miliar atau Rp2.153 triliun nilai pasar aset digital menguap segera setelah kabar serangan mencuat.

Geopolitik Picu Aksi Jual

Eskalasi konflik memicu lonjakan aversi risiko di pasar kripto. Presiden AS Donald Trump dilaporkan mendesak rakyat Iran untuk mengambil alih pemerintahan setelah kampanye militer berakhir. Iran kemudian meluncurkan rudal ke sejumlah lokasi di kawasan Timur Tengah dan mengancam serangan lanjutan terhadap pangkalan terkait AS di Irak.

Ketika pasar saham dan obligasi tutup pada akhir pekan, kripto menjadi salah satu aset yang tetap diperdagangkan dan bereaksi cepat terhadap sentimen global.

Tekanan Derivatif Meningkat

Lonjakan tekanan jual juga terlihat di pasar derivatif. Dalam satu jam pada Sabtu pagi, volume jual Bitcoin melonjak sekitar US$1,8 miliar, menurut analisis CryptoQuant.

Tekanan ini memperpanjang tren pelemahan Bitcoin dalam beberapa bulan terakhir, setelah sebelumnya terjadi likuidasi besar-besaran posisi leverage pada Oktober. Sejak menyentuh rekor di atas US$126.000, harga Bitcoin telah terkoreksi sekitar 50%.

Sementara itu, investor aset digital memanfaatkan platform perdagangan terdesentralisasi seperti Hyperliquiduntuk mengambil posisi pada komoditas yang ditokenisasi, termasuk minyak dan emas, yang justru mencatat kenaikan di tengah ketidakpastian geopolitik.

Pergerakan ini kembali menegaskan sensitivitas pasar kripto terhadap dinamika global, terutama ketika risiko geopolitik meningkat tajam.

Ikuti topik atau tag dari artikel ini untuk melihat lebih banyak berita dan informasi seperti ini

Jangan ketinggalan info keren soal teknologi dan AI?

Yuk, join Channel WhatsApp FluxTren Indonesia!
Satu klik, langsung update berita paling hangat — cepat, ringan, dan pastinya seru buat diikuti!

FluxTren menghormati privasi — tidak berbagi nomor kamu ke pihak ketiga. Info lebih lanjut di kebijakan privasi.
spot_img

More in News

POPULAR