FLUXTREN — Pergerakan harga Bitcoin (BTC) masih menunjukkan ketahanan di tengah meningkatnya ketegangan geopolitik global, khususnya konflik yang melibatkan Iran dan Amerika Serikat.
Dalam beberapa hari terakhir, harga Bitcoin sempat mengalami koreksi hingga menyentuh kisaran 66.000–67.000 dolar AS sebelum kembali pulih dan bergerak di sekitar level 68.000–72.000 dolar AS setara Rp1,1 miliar hingga Rp1,2 Miliar.
Analis dari Tokocrypto, Fyqieh Fachrur, menilai dinamika ini mencerminkan bahwa pasar kripto masih memiliki fondasi permintaan yang cukup kuat, terutama dari investor yang memanfaatkan momentum koreksi harga.
“Pergerakan Bitcoin yang cepat pulih setelah sempat terkoreksi menunjukkan bahwa minat beli investor masih aktif, khususnya di pasar spot,” ujar Fyqieh dalam pernyataannya, Kamis (5/3).
Respons Pasar Dinilai Relatif Stabil
Fyqieh menilai respons pasar kripto terhadap dinamika global relatif lebih stabil dibandingkan beberapa aset berisiko lainnya.
“Meski sentimen global sedang dipengaruhi ketegangan geopolitik dan kenaikan harga energi, Bitcoin masih mampu mempertahankan area harga yang relatif stabil. Ini menunjukkan adanya daya tahan pasar yang cukup baik,” jelasnya.
Selain dukungan dari investor ritel, arus masuk dana ke produk investasi berbasis Bitcoin seperti ETF juga menunjukkan tren positif. Beberapa laporan mencatat inflow ratusan juta dolar AS dalam beberapa hari terakhir, yang mengindikasikan minat investor institusional terhadap Bitcoin masih cukup kuat.
ETF dan Likuiditas Pasar
Menurut Fyqieh, keberadaan investor institusional melalui produk seperti ETF turut membantu menjaga stabilitas pasar.
“Hal ini membantu menjaga likuiditas pasar dan memberikan dukungan terhadap harga ketika terjadi tekanan jangka pendek,” katanya.
Di tengah dinamika pasar global, Bitcoin saat ini masih bergerak dalam rentang harga tertentu atau range-bound. Level 70.000 dolar AS dinilai menjadi salah satu area teknikal penting untuk menjaga momentum pergerakan harga.
Fyqieh menyebut area tersebut berperan sebagai support yang perlu dipertahankan agar tren jangka pendek tetap positif. Namun demikian, volatilitas masih berpotensi terjadi mengingat pasar global masih sensitif terhadap perkembangan geopolitik dan kebijakan ekonomi.

