OpenAI Dituding “Melecehkan” Keluarga Remaja yang Diduga Bunuh Diri Setelah Pakai ChatGPT

Pengacara keluarga menyebut langkah OpenAI sebagai “tindakan pelecehan yang disengaja”, menilai permintaan itu tidak etis dan tidak relevan dengan inti gugatan.

FLUXTREN — OpenAI kembali menjadi sorotan setelah mengajukan permintaan yang tidak biasa dalam kasus hukum terkait kematian Adam Raine, remaja yang diduga bunuh diri usai berinteraksi secara intens dengan ChatGPT.

Menurut laporan Financial Times, OpenAI meminta daftar lengkap orang yang hadir dalam upacara peringatan Raine.

Permintaan itu berarti seluruh teman dan kerabat yang menghadiri acara tersebut berpotensi akan dihubungi langsung oleh perusahaan.

Selain itu, dokumen pengadilan menunjukkan OpenAI juga meminta seluruh materi yang berkaitan dengan upacara peringatan, termasuk foto, video, dan bentuk penghormatan lain terhadap Raine.

Respons Keluarga: “Pelecehan yang Disengaja”

Permintaan tersebut memicu kemarahan keluarga. Pengacara yang mewakili mereka menyebut langkah OpenAI sebagai “tindakan pelecehan yang disengaja”, menilai permintaan itu tidak etis dan tidak relevan dengan inti gugatan.

Keluarga Raine menuding ChatGPT berperan dalam keputusan tragis putra mereka, dan menyebut interaksi intensif dengan chatbot itu memperburuk kondisi mental sang remaja.

Gugatan keluarga pertama kali diajukan pada awal 2025 dan diperbarui pada 22 Oktober 2025. Dalam revisinya, keluarga menuduh OpenAI mempercepat peluncuran model GPT-4o pada Mei 2024 tanpa uji keamanan memadai, karena tekanan kompetitif dari pasar AI.

Perlindungan Bunuh Diri Dihapus

Gugatan juga menyoroti keputusan internal OpenAI yang disebut menghapus pencegahan bunuh diri dari daftar “konten terlarang” pada Februari 2025.
Setelah perubahan itu, jumlah percakapan harian Adam dengan ChatGPT dilaporkan melonjak hingga 300 kali per hari.

Langkah tersebut, menurut pihak keluarga, menunjukkan bahwa perusahaan lebih fokus pada ekspansi produk daripada keselamatan pengguna rentan.

Tanggapan OpenAI

Menanggapi tuduhan itu, OpenAI menyatakan bahwa kesejahteraan remaja tetap menjadi prioritas utama.

Perusahaan mengklaim telah menerapkan beberapa sistem perlindungan, termasuk mengarahkan pengguna ke hotline krisis saat membahas topik sensitif.

Selain itu mengalihkan percakapan ke model yang lebih aman dan mendorong jeda otomatis dalam sesi obrolan panjang.

“Kami terus memperkuat langkah-langkah ini demi keselamatan pengguna,” kata perwakilan OpenAI dalam pernyataan resmi.

Konflik Etika di Balik Teknologi AI

Kasus Raine membuka perdebatan baru soal tanggung jawab perusahaan AI terhadap kesehatan mental pengguna.

Meski ChatGPT dirancang untuk membantu, intensitas interaksi tanpa pengawasan manusia dapat menimbulkan risiko bagi pengguna dengan kondisi emosional tertentu.

Kasus ini juga menjadi pengingat bahwa AI bukan sekadar produk teknologi, tapi sistem yang kini bersinggungan langsung dengan sisi paling rentan dari kehidupan manusia.

Ikuti topik atau tag dari artikel ini untuk melihat lebih banyak berita dan informasi seperti ini

Jangan ketinggalan info keren soal teknologi dan AI?

Yuk, join Channel WhatsApp FluxTren Indonesia!
Satu klik, langsung update berita paling hangat — cepat, ringan, dan pastinya seru buat diikuti!

FluxTren menghormati privasi — tidak berbagi nomor kamu ke pihak ketiga. Info lebih lanjut di kebijakan privasi.
spot_img

More in News

POPULAR