FLUXTREN — Senat Amerika Serikat dilaporkan telah memberikan izin resmi kepada stafnya untuk menggunakan sejumlah chatbot berbasis kecerdasan buatan dalam pekerjaan sehari-hari. Informasi tersebut pertama kali dilaporkan oleh The New York Times pada Selasa (10/3), mengutip sebuah memo internal.
Dalam memo tersebut disebutkan bahwa para ajudan senator kini diperbolehkan menggunakan beberapa alat AI untuk membantu berbagai tugas administratif maupun analisis. Beberapa chatbot yang diizinkan antara lain Gemini milik Google, ChatGPT dari OpenAI, serta Microsoft Copilot yang dikembangkan oleh Microsoft.
Ketiga layanan AI tersebut disebut telah terintegrasi dengan sejumlah platform digital internal yang digunakan di Senat. Dengan integrasi ini, staf dapat memanfaatkan teknologi AI untuk merangkum dokumen, menyusun draft teks, hingga membantu pencarian informasi.
Meski demikian, laporan tersebut belum disertai konfirmasi resmi dari seluruh perusahaan teknologi yang terlibat. Seorang juru bicara Microsoft mengatakan kepada Reuters bahwa perusahaan masih meninjau informasi terkait persetujuan penggunaan teknologi tersebut. Sementara itu, Google dan OpenAI belum memberikan tanggapan atas permintaan komentar.
Langkah ini mencerminkan perubahan pendekatan lembaga pemerintahan terhadap pemanfaatan teknologi kecerdasan buatan. Dalam beberapa tahun terakhir, AI generatif semakin banyak digunakan untuk meningkatkan produktivitas kerja di berbagai sektor, termasuk pemerintahan.
Namun penggunaan teknologi ini juga memicu diskusi mengenai keamanan data, privasi, serta potensi penyalahgunaan informasi. Di lingkungan legislatif seperti Senat AS, penggunaan AI diperkirakan tetap akan disertai aturan ketat, terutama dalam pengolahan dokumen yang bersifat sensitif atau rahasia.

