Higgsfield AI Hadirkan Cuplikan Live-Action Spirited Away Versi AI, Tuai Decak Kagum dan Kontroversi

Sejumlah kreator memanfaatkan kemampuan ini untuk menciptakan ulang adegan ikonik Spirited Away dalam bentuk realistis.

FLUXTREN – Platform AI sinematik Higgsfield AI melalui Cinema Studio versi 1.5 memfasilitasi pembuatan cuplikan video live-action yang terinspirasi dari film animasi ikonik Spirited Away. Video tersebut bukan rilisan resmi Studio Ghibli, melainkan karya kreator independen yang memanfaatkan teknologi AI generatif Higgsfield.

Pembaruan Cinema Studio v1.5 yang dirilis pada 8 Januari 2026 menghadirkan kontrol sinematografi tingkat profesional. Pengguna kini dapat memilih kamera kelas industri seperti ARRI Alexa, memasangkannya dengan lensa sinematik, serta mengatur pergerakan kamera dengan presisi layaknya sutradara film live-action.

Animasi ikonik Spirited Away versi anime Vs versi AI live-action (foto: Higgsfield AI & Studio Ghibli)

Sejumlah kreator memanfaatkan kemampuan ini untuk menciptakan ulang adegan ikonik Spirited Away dalam bentuk realistis. Kreator bernama Choi, misalnya, menampilkan kembali Rumah Mandi Yubaba dengan Chihiro, Haku dalam wujud naga, dan No-Face dalam versi manusia realistis. Sementara itu, Pierrick Chevallier menggunakan platform yang sama untuk eksperimen lintas semesta, menggabungkan estetika Stranger Things dengan karakter Darth Vader.

Cuplikan-cuplikan tersebut menuai pujian dari komunitas kreator dan pembuat film independen, yang menilai kualitas visual “setara kamera ARRI” sebagai terobosan besar bagi produksi film berbiaya rendah. Teknologi ini memungkinkan pembuatan adegan kompleks hanya dari prompt teks atau referensi gambar, tanpa kru besar atau lokasi fisik.

salah satu cuplikan animasi ikonik Spirited Away versi anime Vs versi AI live-action (foto: Higgsfield AI & Studio Ghibli)

Namun, respons negatif juga mengemuka. Sejumlah penggemar Studio Ghibli menilai hasil AI tersebut mereduksi nilai artistik karya asli Hayao Miyazaki, yang dikenal vokal menentang penggunaan AI dalam seni. Kritik berfokus pada kekhawatiran bahwa teknologi semacam ini dapat menggeser peran seniman manusia dan mendorong praktik pembuatan ulang tanpa konteks emosional mendalam.

Fenomena ini kembali menyoroti dilema besar di industri kreatif: di satu sisi AI generatif membuka peluang baru bagi kreator independen, di sisi lain memicu perdebatan etika terkait hak cipta, orisinalitas, dan masa depan seni buatan manusia.

Ikuti topik atau tag dari artikel ini untuk melihat lebih banyak berita dan informasi seperti ini

Jangan ketinggalan info keren soal teknologi dan AI?

Yuk, join Channel WhatsApp FluxTren Indonesia!
Satu klik, langsung update berita paling hangat — cepat, ringan, dan pastinya seru buat diikuti!

FluxTren menghormati privasi — tidak berbagi nomor kamu ke pihak ketiga. Info lebih lanjut di kebijakan privasi.
spot_img

More in News

POPULAR