FLUXTREN — OpenAI resmi meluncurkan dua model kecerdasan buatan (AI) terbarunya, GPT-5.2 Pro dan GPT-5.2 Thinking. Keduanya diklaim sebagai model AI paling kuat yang pernah dirilis OpenAI, khususnya untuk kebutuhan matematika, sains, dan penalaran teknis tingkat lanjut.
Menurut OpenAI, seri GPT-5.2 menunjukkan peningkatan signifikan dalam penalaran matematika dan logika multi-langkah (multi-step reasoning). Model ini dirancang agar lebih konsisten dalam analisis, sehingga mampu menghindari kesalahan-kesalahan halus yang kerap muncul dalam simulasi, statistik, hingga pengolahan data kompleks.
Kemampuan tersebut membuat GPT-5.2 semakin relevan untuk mendukung alur kerja ilmiah yang krusial, mulai dari pengkodean, analisis data, hingga eksplorasi konsep teoretis di tahap awal penelitian.
Performa Tinggi di Tolok Ukur Tingkat Ahli
Kinerja GPT-5.2 telah diuji melalui berbagai tolok ukur akademik. Pada FrontierMath, evaluasi matematika tingkat ahli, GPT-5.2 Thinking berhasil menyelesaikan 40,3 persen soal—menunjukkan kedalaman penalaran matematis yang jauh lebih matang dibanding generasi sebelumnya.
Sementara itu, pada tolok ukur tanya jawab tingkat pascasarjana GPQA Diamond, GPT-5.2 Pro mencatat skor impresif 93,2 persen, disusul GPT-5.2 Thinking dengan 92,4 persen. Skor ini menempatkan GPT-5.2 di jajaran teratas model AI untuk sains dan pengetahuan tingkat lanjut.
AI Tetap Alat, Bukan Pengganti Peneliti
Meski menawarkan performa tinggi, OpenAI menegaskan bahwa GPT-5.2 tidak dimaksudkan untuk menggantikan peran ilmuwan atau peneliti manusia. Model ini diposisikan sebagai alat pendukung penalaran, bukan pengambil keputusan akhir.
“Jika digunakan dengan hati-hati, sistem seperti ini dapat membantu menyederhanakan aspek-aspek penting dari pekerjaan teoretis tanpa menggantikan peran sentral penilaian manusia dalam penyelidikan ilmiah,” tulis OpenAI dalam pernyataan resminya, dikutip Jumat (12/12).
Peluncuran GPT-5.2 menegaskan arah OpenAI dalam mengembangkan AI yang semakin kuat di ranah akademik dan teknis, sekaligus menekankan pentingnya kolaborasi antara kecerdasan buatan dan keahlian manusia.

