Anak Sering Memalsukan Usia, Platform Harus Pakai Deteksi Perilaku

anak-anak kerap memanipulasi usia saat mendaftar di platform digital untuk menghindari pembatasan umur.

FLUXTREN – Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengungkapkan bahwa anak-anak kerap memanipulasi usia saat mendaftar di platform digital untuk menghindari pembatasan umur. Praktik ini membuat sistem platform keliru mengklasifikasikan pengguna anak sebagai orang dewasa.

Menurut Nezar, kondisi tersebut menunjukkan bahwa platform digital tidak lagi cukup hanya mengandalkan pernyataan tanggal lahir dalam proses verifikasi usia. Ia menilai, penyelenggara sistem elektronik perlu mulai mengadopsi teknologi deteksi usia berbasis perilaku atau age inferential.

“Platform umumnya digerakkan oleh mesin tanpa verifikasi mendalam. Ketika anak memalsukan umur, sistem menganggap mereka sudah 18 tahun, konten-konten dewasa, bahkan konten seksual, terpapar bebas ke mereka,” ujar Nezar dalam keterangan tertulis, dikutip Rabu (4/2/2026).

Nezar menjelaskan bahwa celah verifikasi usia ini menyebabkan konten dewasa semakin mudah masuk ke lini masa anak-anak. Oleh karena itu, Kementerian Komunikasi dan Digital mendorong platform digital untuk mengadopsi solusi teknologi yang lebih canggih.

Teknologi age inferential, lanjut Nezar, memungkinkan algoritma platform membaca kecenderungan perilaku pengguna berdasarkan pola konsumsi konten. Dengan pendekatan ini, sistem dapat mendeteksi ketidaksesuaian antara usia yang diklaim pengguna dengan perilaku digitalnya.

“Meskipun pengguna tidak menyatakan usia sebenarnya, sistem bisa memprofiling berdasarkan konten yang dikonsumsi. Jika terdeteksi pola konsumsi anak pada akun dewasa, sistem dapat otomatis membatasi atau memblokir akses ke konten berbahaya,” jelasnya.

Ia menambahkan, sejumlah platform digital global berskala besar, termasuk YouTube, telah mulai menguji coba teknologi tersebut di beberapa wilayah untuk mengukur efektivitasnya. Nezar berharap pendekatan safety by design tidak hanya dijalankan demi kepatuhan regulasi, tetapi menjadi budaya perusahaan dalam menciptakan ruang digital yang aman.

Dalam kesempatan yang sama, Ketua Umum Indonesian E-Commerce Association (idEA), Hilmi Adrianto, menyatakan dukungannya terhadap arahan pemerintah. Ia mengakui bahwa meskipun anak-anak memperoleh manfaat edukasi dari dunia digital, risiko paparan konten yang tidak sesuai usia tetap tinggi.

“Implementasi regulasi ini akan mengubah cara platform merancang layanan dan fitur. Tantangannya adalah menemukan solusi teknologi yang proporsional—efektif menyaring konten negatif tanpa menghambat akses anak terhadap informasi positif,” ujar Hilmi.

Ikuti topik atau tag dari artikel ini untuk melihat lebih banyak berita dan informasi seperti ini

Jangan ketinggalan info keren soal teknologi dan AI?

Yuk, join Channel WhatsApp FluxTren Indonesia!
Satu klik, langsung update berita paling hangat — cepat, ringan, dan pastinya seru buat diikuti!

FluxTren menghormati privasi — tidak berbagi nomor kamu ke pihak ketiga. Info lebih lanjut di kebijakan privasi.
spot_img

More in News

POPULAR