China Siapkan Pusat Data AI di Orbit, Tantang SpaceX dan Elon Musk

Proyek ini diposisikan sebagai pilar utama dalam Rencana Lima Tahun ke-15 China, yang menjadi cetak biru pembangunan ekonomi nasional.

FLUXTREN – China mengumumkan rencana membangun pusat data kecerdasan buatan (AI) di orbit dalam lima tahun ke depan. Langkah ini secara langsung menempatkan Beijing dalam persaingan terbuka dengan visi komputasi luar angkasa yang selama ini digaungkan oleh Elon Musk dan SpaceX.

Rencana tersebut diungkapkan oleh China Aerospace Science and Technology Corporation (CASC), kontraktor utama antariksa China, dalam dokumen pengembangan lima tahunan yang dilaporkan oleh CCTV. CASC menargetkan pembangunan fasilitas komputasi AI orbital “kelas gigawatt” yang ditenagai energi surya dan beroperasi penuh pada 2030.

Fasilitas ini dirancang untuk mengintegrasikan kemampuan cloud, edge, dan terminal, sehingga daya komputasi, kapasitas penyimpanan, dan bandwidth transmisi dapat bekerja secara terpadu. Dengan pendekatan ini, data dari Bumi dapat diproses langsung di luar angkasa tanpa perlu dikirim kembali ke pusat data darat.

Dokumen kebijakan CASC yang dirilis pada Desember 2025 juga mengungkap ambisi membangun “Space Cloud” berskala industri pada 2030. Proyek ini diposisikan sebagai pilar utama dalam Rencana Lima Tahun ke-15 China, yang menjadi cetak biru pembangunan ekonomi nasional.

Di sisi lain, Elon Musk memaparkan visi serupa dalam forum World Economic Forum di Davos, Swiss, pekan lalu. Ia menilai pusat data AI berbasis tenaga surya di luar angkasa sebagai solusi paling logis untuk kebutuhan energi komputasi AI yang terus meningkat.

“Membangun pusat data bertenaga surya di luar angkasa itu tidak perlu diperdebatkan. Tempat termurah untuk menempatkan AI akan berada di luar angkasa,” ujar Musk. Ia mengklaim panel surya di orbit mampu menghasilkan hingga lima kali lebih banyak energi dibandingkan panel di permukaan Bumi.

SpaceX disebut berencana mendanai sebagian proyek komputasi orbital tersebut melalui rencana penawaran umum perdana (IPO) senilai sekitar US$25 miliar. Namun, Musk memperkirakan proyek serupa dapat terealisasi dalam dua hingga tiga tahun.

Persaingan antariksa ini meluas ke sektor lain. CASC juga menyatakan komitmen untuk mengembangkan wisata antariksa suborbital berawak dan secara bertahap menuju wisata antariksa orbital dalam lima tahun ke depan. Target jangka panjang Beijing adalah menjadikan China sebagai kekuatan antariksa terdepan dunia pada 2045.

Meski ambisi China besar, tantangan teknis masih signifikan. Hingga kini, China belum berhasil mengoperasikan roket yang sepenuhnya dapat digunakan kembali. Sebaliknya, SpaceX telah lama mengandalkan roket Falcon 9 yang dapat digunakan ulang, sehingga menekan biaya peluncuran dan mendukung dominasi jaringan satelit orbit rendah Starlink.

Namun, China mencatat 93 peluncuran antariksa sepanjang tahun lalu, sebagian besar didorong oleh pertumbuhan sektor antariksa komersial domestik. Ambisi jangka panjang Beijing juga terlihat dengan peresmian Sekolah Navigasi Antarbintang pertama di bawah Akademi Ilmu Pengetahuan China untuk mengembangkan talenta di bidang propulsi dan navigasi ruang angkasa dalam.

Di tengah perkembangan tersebut, Amerika Serikat dan China tetap bersaing ketat dalam upaya mengirim kembali astronaut ke Bulan, yang terakhir kali dikunjungi manusia pada misi Apollo pada 1972.

Ikuti topik atau tag dari artikel ini untuk melihat lebih banyak berita dan informasi seperti ini

Jangan ketinggalan info keren soal teknologi dan AI?

Yuk, join Channel WhatsApp FluxTren Indonesia!
Satu klik, langsung update berita paling hangat — cepat, ringan, dan pastinya seru buat diikuti!

FluxTren menghormati privasi — tidak berbagi nomor kamu ke pihak ketiga. Info lebih lanjut di kebijakan privasi.
spot_img

More in News

POPULAR